Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) kembali menjadi fokus perhatian setelah adanya kesepakatan untuk menyelenggarakan Muktamar NU secara bersama-sama antara Rais Aam PBNU dan Ketua Umum PBNU. Kesepakatan ini muncul dalam pertemuan konsultasi antara jajaran Syuriyah dan Mustasyar PBNU di Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur pada 25 Desember 2025. KH Ma’ruf Amin, selaku Mustasyar PBNU, memberikan pandangannya mengenai hasil pertemuan tersebut yang diharapkan dapat mengakhiri dinamika internal organisasi.
1. Apresiasi atas Kesepakatan Muktamar Bersama
KH Ma’ruf Amin menyampaikan apresiasi atas kesepakatan untuk menyelenggarakan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama secara bersama-sama antara Rais Aam PBNU dan Ketua Umum PBNU setelah pertemuan itu mencapai titik mufakat. Ia menyatakan bahwa pertemuan berjalan dengan baik dan menghasilkan keputusan penting bagi kelangsungan organisasi.
Menurut Ma’ruf Amin, hasil pertemuan tersebut menegaskan bahwa muktamar tidak akan digelar hanya oleh satu pihak, melainkan sebagai inisiatif bersama, dengan melibatkan kedua pucuk pimpinan serta jajaran kepengurusan PBNU.
2. Tujuan Muktamar Bersama dan Penyelesaian Konflik
Salah satu pesan penting dari pernyataan KH Ma’ruf Amin adalah bahwa tujuan utama dilaksanakannya muktamar bersama adalah demi menghilangkan konflik internal yang sempat terjadi di tubuh organisasi.
Menurut Ma’ruf Amin, para mustasyar dan kiai sepuh berperan sebagai fasilitator menuju kesepakatan bersama yang menempatkan kepentingan organisasi di atas perbedaan pandangan. Dengan menyelenggarakan muktamar secara bersama-sama, diharapkan kondisi internal NU menjadi lebih kondusif dan bersatu kembali.
3. Peran Rais Aam dan Ketua Umum PBNU
Dalam pertemuan di Lirboyo, hadir pula Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar serta Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf. Kesepakatan yang dicapai menetapkan bahwa kedua pimpinan itu akan bekerja sama membentuk kepanitiaan muktamar serta menentukan waktu, tempat, dan pelaksanaan acara secara bersama.
Keputusan seperti ini menjadi simbol bahwa kepemimpinan dalam organisasi NU akan kembali mengutamakan kolaborasi dan koordinasi antarpara tokoh utama.
4. Konteks Dinamika Internal PBNU
Kondisi internal PBNU dalam beberapa waktu terakhir sempat mengalami ketegangan. Pernyataan Ma’ruf Amin yang menegaskan bahwa “tidak ada lagi konflik di PBNU” menunjukkan adanya perubahan suasana organisasi setelah kesepakatan ini dicapai. Ia menyampaikan bahwa para mustasyar dan kiai sepuh telah bekerja untuk menyatukan pandangan semua pihak dan mendorong persatuan organisasi.
Upaya islah ini menjadi momentum penting bagi NU, mengingat posisi organisasi sebagai salah satu pilar utama umat Islam di Indonesia yang memiliki peran sosial, keagamaan, dan kebangsaan.
5. Apa Selanjutnya?
Hasil pertemuan menetapkan bahwa Muktamar ke-35 NU akan diselenggarakan secepat mungkin, dengan melibatkan Rais Aam dan Ketua Umum sebagai pemimpin bersama proses penyelenggaraan. Rapat konsultasi juga dihadiri jajaran syuriyah, pengurus wilayah, dan cabang NU, menunjukkan bahwa keputusan ini memiliki dukungan luas dari struktur organisasi.
Dengan momentum baru ini, NU berharap rangkaian proses organisasional, mulai dari pembentukan kepanitiaan hingga pelaksanaan muktamar, dapat dijalankan secara lancar dan mencerminkan semangat kebersamaan.
Kesimpulan
KH Ma’ruf Amin menyambut baik dan mengapresiasi kesepakatan penyelenggaraan Muktamar NU secara bersama antara Rais Aam dan Ketua Umum PBNU. Kesepakatan ini dipandang sebagai solusi untuk meredam ketegangan internal dan mengembalikan suasana organisasi yang lebih bersatu. Muktamar bersama diharapkan menjadi momentum penting dalam sejarah NU untuk memperkuat struktur organisasi, kolaborasi kepemimpinan, serta peran NU di tengah dinamika sosial dan keagamaan Indonesia saat ini.



