Generasi Muda Lebih Suka Staycation daripada Liburan Jauh
Lifestyle

Generasi Muda Lebih Suka Staycation daripada Liburan Jauh

Dalam beberapa tahun terakhir, tren berlibur di kalangan anak muda mengalami perubahan signifikan. Jika sebelumnya banyak orang yang lebih memilih bepergian jauh, menjelajahi kota atau negara lain untuk berlibur, kini muncul fenomena baru: staycation. Istilah yang berasal dari gabungan kata stay (tinggal) dan vacation (liburan) ini merujuk pada kegiatan berlibur dengan tetap berada di dalam kota atau area sekitar tempat tinggal, biasanya dengan menginap di hotel, vila, atau apartemen.

Fenomena ini makin populer di kalangan generasi muda, terutama Gen Z dan milenial. Mereka lebih memilih menikmati akhir pekan dengan beristirahat di hotel dalam kota ketimbang harus menghabiskan banyak waktu, tenaga, dan biaya untuk perjalanan jauh. Lalu, apa alasan di balik tren ini, dan bagaimana dampaknya terhadap dunia pariwisata?

Praktis dan Tidak Ribet

Salah satu alasan utama generasi muda lebih suka staycation adalah faktor kepraktisan. Liburan jauh sering kali membutuhkan perencanaan matang: memesan tiket transportasi, menyiapkan itinerary, hingga memikirkan akomodasi. Semua itu tentu memakan waktu dan energi.

Berbeda dengan staycation yang relatif lebih sederhana. Cukup memesan kamar hotel atau vila melalui aplikasi daring, membawa beberapa pakaian, lalu menikmati fasilitas yang tersedia. Dalam hitungan jam, mereka sudah bisa menikmati suasana liburan tanpa harus menempuh perjalanan panjang.

Seorang pekerja muda di Jakarta, Rani (25), mengaku lebih sering memilih staycation bersama teman-temannya. “Kalau liburan jauh itu harus cuti lama dan biayanya juga lebih besar. Kalau staycation, cukup booking hotel di dalam kota, bisa quality time tanpa ribet,” ujarnya.

Faktor Ekonomi: Lebih Hemat Biaya

Generasi muda saat ini dikenal lebih berhati-hati dalam mengatur pengeluaran. Banyak dari mereka yang lebih memilih mengalokasikan uang untuk kebutuhan lain seperti investasi, gaya hidup digital, atau tabungan masa depan.

Staycation dianggap sebagai opsi liburan lebih ramah kantong. Biaya menginap di hotel atau apartemen lokal tentu jauh lebih murah dibandingkan membeli tiket pesawat dan akomodasi di luar kota atau luar negeri. Selain itu, promo dari aplikasi pemesanan hotel juga menjadi daya tarik tersendiri.

Menurut data dari salah satu platform pemesanan daring, tren pemesanan hotel untuk staycation meningkat hingga 40% pada tahun 2024, terutama di kota besar seperti Jakarta, Surabaya, Bandung, dan Yogyakarta.

Work-Life Balance dan Kebutuhan Healing

Beban kerja yang padat membuat generasi muda kerap merasa jenuh dan stres. Staycation hadir sebagai solusi cepat untuk memenuhi kebutuhan healing tanpa harus menunggu musim liburan panjang.

Hotel-hotel kini banyak menawarkan fasilitas spa, kolam renang, hingga rooftop lounge yang bisa membuat tamu merasa seperti sedang berlibur jauh. Konsep ini sejalan dengan gaya hidup generasi muda yang mengutamakan work-life balance.

“Kalau ke luar kota, kadang malah capek di perjalanan. Dengan staycation, kita bisa benar-benar istirahat, recharge energi, lalu kembali produktif di kantor,” ungkap Dimas (28), seorang karyawan swasta yang rutin melakukan staycation sebulan sekali.

Dorongan Media Sosial dan Konten

Tak bisa dipungkiri, media sosial juga berperan besar dalam mempopulerkan tren staycation. Generasi muda senang membagikan pengalaman mereka di Instagram, TikTok, maupun YouTube. Foto-foto kamar hotel estetik, rooftop dengan city view, atau sarapan mewah di pinggir kolam menjadi konten yang menarik perhatian banyak orang.

Pihak hotel pun semakin jeli melihat peluang ini. Banyak hotel yang kini mendesain interior mereka lebih “Instagrammable” agar sesuai dengan selera anak muda. Bahkan beberapa hotel mengusung konsep unik seperti eco-friendly staycation, glamping (glamour camping), atau cozy minimalist style.

Faktor Transportasi dan Kemacetan

Liburan jauh seringkali terhambat oleh kemacetan lalu lintas maupun harga tiket transportasi yang melonjak saat musim liburan. Hal ini menjadi pertimbangan bagi generasi muda untuk memilih staycation.

Dengan tetap berada di dalam kota, mereka bisa menghindari perjalanan panjang yang melelahkan. Waktu yang biasanya habis di jalan, bisa diganti dengan menikmati fasilitas hotel atau sekadar bersantai bersama keluarga dan teman.

Dampak pada Industri Pariwisata

Fenomena meningkatnya minat staycation tentu membawa dampak bagi dunia pariwisata, baik positif maupun negatif.

Dampak Positif:

  1. Meningkatkan okupansi hotel lokal. Banyak hotel di kota besar mengalami lonjakan tamu, terutama di akhir pekan.

  2. Mendorong kreativitas industri perhotelan. Hotel berlomba-lomba menawarkan paket staycation menarik seperti family package, romantic package, hingga wellness retreat.

  3. Menggerakkan ekonomi lokal. Konsumen yang melakukan staycation tetap membelanjakan uang mereka untuk kuliner, hiburan, dan transportasi lokal.

Dampak Negatif:

  1. Pariwisata luar kota berkurang. Destinasi wisata jauh bisa kehilangan sebagian wisatawan domestik.

  2. Perbedaan distribusi wisata. Konsentrasi wisata lebih banyak di kota besar dibandingkan daerah pedesaan atau destinasi alam.

Staycation Bukan Sekadar Tren Sementara

Banyak pakar menilai bahwa staycation bukan sekadar tren sesaat, melainkan akan terus berkembang. Alasannya adalah karena gaya hidup generasi muda kini semakin mengedepankan efisiensi waktu, kenyamanan, dan pengalaman personal.

Selain itu, tren remote working dan hybrid working juga mendorong orang untuk mencari tempat beristirahat yang dekat namun tetap bisa produktif. Hotel dengan fasilitas Wi-Fi cepat dan ruang kerja nyaman sering dipilih sebagai tempat kombinasi antara liburan dan bekerja, atau istilahnya workcation.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *