Lingkungan - Sosial & Masyarakat - Teknik & Strategi - Teknologi

HP Rusak Jangan Langsung Dibuang: Ancaman E-Waste dan Peluang Ekonomi Sirkular Indonesia

Sampah elektronik Indonesia terus menjadi tantangan di era digital. Kenali bahaya e-waste, cara pengelolaan, dan peluang ekonomi sirkular.

Ada satu kebiasaan yang mungkin terlihat sederhana tetapi sebenarnya menyimpan persoalan besar.

Membeli ponsel baru.

Kemudian ponsel lama disimpan di laci.

Beberapa bulan kemudian muncul smartphone generasi berikutnya.

Ponsel lama kembali dilupakan.

Di rumah masih ada charger yang tidak terpakai.

Headset rusak.

Power bank lama.

Keyboard yang tombolnya tidak berfungsi.

Laptop dengan baterai bermasalah.

Televisi rusak.

Kabel yang sudah tidak digunakan.

Baterai bekas menumpuk di satu kotak.

Semua benda tersebut terlihat seperti barang biasa.

Namun ketika perangkat elektronik sudah tidak digunakan, sebenarnya kita sedang berhadapan dengan persoalan yang jauh lebih besar:

sampah elektronik atau electronic waste (e-waste).

Di tengah percepatan digitalisasi Indonesia, persoalan ini menjadi semakin relevan.

Masyarakat membutuhkan teknologi untuk bekerja, belajar, berkomunikasi, berbisnis, hingga mendapatkan hiburan.

Tetapi semakin banyak perangkat yang digunakan, semakin besar pula pertanyaan mengenai apa yang terjadi ketika perangkat tersebut sudah mencapai akhir masa pakainya.

Pada Mei 2026, Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup menyebut peningkatan populasi, urbanisasi, dan konsumsi produk elektronik ikut mendorong kenaikan timbulan e-waste setiap tahun. Pemerintah juga melihat limbah elektronik bukan sekadar masalah lingkungan karena di dalamnya terdapat material bernilai yang dapat dimanfaatkan kembali.

Jadi, persoalannya bukan hanya:

“Bagaimana membuang elektronik yang rusak?”

Pertanyaan yang lebih penting adalah:

“Bagaimana memastikan perangkat yang sudah tidak digunakan tetap memiliki nilai tanpa membahayakan manusia dan lingkungan?”


Apa Sebenarnya yang Disebut Sampah Elektronik?

Sampah elektronik adalah perangkat elektronik atau komponennya yang sudah tidak digunakan, rusak, atau dibuang oleh pemiliknya.

Jenisnya sangat banyak.

Mulai dari perangkat kecil sampai peralatan berukuran besar.

Contohnya:

  • smartphone;
  • tablet;
  • laptop;
  • komputer;
  • printer;
  • televisi;
  • kamera;
  • speaker;
  • router;
  • keyboard;
  • mouse;
  • kabel;
  • charger;
  • baterai;
  • power bank;
  • perangkat rumah tangga elektronik;
  • dan berbagai peralatan digital lainnya.

Masalahnya, perangkat tersebut tidak sama dengan sampah rumah tangga biasa.

Di dalamnya terdapat berbagai material yang memiliki karakteristik berbeda.

Ada plastik.

Ada kaca.

Ada tembaga.

Ada aluminium.

Ada komponen elektronik.

Ada baterai.

Bahkan terdapat material bernilai tinggi yang dapat dipulihkan melalui proses pengolahan yang tepat.

Karena itu, membuang perangkat elektronik sembarangan dapat berarti kehilangan sumber daya sekaligus meningkatkan risiko pencemaran.


Mengapa E-Waste Berbeda dari Sampah Biasa?

Bayangkan sebuah botol plastik.

Setelah digunakan, kita dapat memisahkannya dan memasukkannya ke sistem pengelolaan sampah tertentu.

Elektronik jauh lebih kompleks.

Satu smartphone saja dapat terdiri dari berbagai material yang membutuhkan proses pemilahan.

Belum lagi baterainya.

Baterai membutuhkan penanganan yang berbeda dibandingkan plastik atau kertas.

Jika perangkat elektronik dihancurkan, dibakar, atau diproses secara tidak tepat, material tertentu dapat menimbulkan risiko bagi lingkungan dan kesehatan.

Karena itu, e-waste membutuhkan rantai pengelolaan yang lebih terstruktur.

Mulai dari:

pengumpulan → pemilahan → pengangkutan → pengolahan → pemulihan material → penggunaan kembali.

Inilah alasan mengapa pengelolaan e-waste tidak cukup hanya dengan slogan “daur ulang”.


Indonesia Sedang Menghadapi Persoalan Sampah yang Lebih Besar

Persoalan e-waste juga harus dilihat dalam konteks pengelolaan sampah nasional.

Kementerian Lingkungan Hidup/BPLH pada Februari 2026 menyebut bahwa hingga akhir 2025, sampah yang terkelola secara nasional baru sekitar 25 persen atau sekitar 36.684 ton per hari, sementara sekitar 75 persen atau 105.483 ton per hari belum tertangani secara memadai.

Angka tersebut menggambarkan besarnya pekerjaan rumah pengelolaan sampah di Indonesia.

Karena itu, e-waste tidak boleh dianggap sebagai persoalan kecil yang bisa diselesaikan dengan membuang perangkat ke tempat sampah biasa.

Jika sistem pengelolaan sampah secara umum saja masih menghadapi tantangan besar, limbah elektronik membutuhkan perhatian khusus agar tidak bercampur dengan sampah rumah tangga.


Barang Rusak Belum Tentu Menjadi Sampah

Ini adalah perubahan cara berpikir yang penting.

Sebuah laptop yang rusak belum tentu benar-benar menjadi sampah.

Bisa saja:

layarnya masih berfungsi.

RAM masih dapat digunakan.

SSD masih menyimpan data.

Keyboard masih bagus.

Casing masih layak.

Komponen tertentu dapat digunakan sebagai suku cadang.

Begitu juga smartphone.

Perangkat lama mungkin tidak lagi memenuhi kebutuhan pemiliknya, tetapi masih dapat memiliki nilai bagi orang lain.

Di sinilah konsep reuse menjadi penting.

Sebelum sebuah perangkat benar-benar didaur ulang, pertanyaan pertama seharusnya:

Apakah perangkat ini masih bisa digunakan kembali?


Repair Bisa Menjadi Bagian dari Solusi

Budaya mengganti perangkat ketika mengalami kerusakan kecil turut memperpendek umur produk.

Baterai melemah.

Layar pecah.

Port charger bermasalah.

Tombol rusak.

Software mengalami gangguan.

Jika semua masalah tersebut langsung berujung pada pembelian perangkat baru, jumlah elektronik yang dibuang akan semakin banyak.

Karena itu, budaya repair atau memperbaiki perangkat dapat menjadi salah satu solusi.

Tentu tidak semua perangkat ekonomis untuk diperbaiki.

Namun jika biaya perbaikan masuk akal dan suku cadang tersedia, memperpanjang usia perangkat bisa menjadi pilihan yang lebih ramah lingkungan.


Masalah Data Pribadi di Balik Gadget Bekas

Ada persoalan lain yang sering dilupakan.

Data pribadi.

Ketika menjual atau membuang smartphone, apakah seluruh data sudah benar-benar dihapus?

Foto.

Kontak.

Percakapan.

Dokumen.

Email.

Informasi akun.

Data aplikasi.

Semua itu dapat tertinggal jika perangkat tidak dipersiapkan dengan benar.

Karena itu, sebelum perangkat berpindah tangan, pemilik harus memastikan data pribadi telah dicadangkan dan perangkat dihapus melalui prosedur yang sesuai.

Ini memperlihatkan bahwa pengelolaan e-waste tidak hanya berkaitan dengan lingkungan.

Ia juga berhubungan dengan:

keamanan siber dan privasi.


Jangan Sembarangan Membakar Elektronik

Ada anggapan bahwa membakar sampah merupakan cara tercepat untuk menghilangkannya.

Untuk elektronik, tindakan seperti ini sangat bermasalah.

Perangkat elektronik terdiri dari berbagai material.

Pembakaran tidak terkontrol dapat menghasilkan emisi dan residu yang berbahaya.

Karena itu, elektronik yang sudah tidak digunakan sebaiknya tidak dibakar bersama sampah rumah tangga.

Jangan pula membongkar komponen tertentu dengan metode yang tidak aman hanya karena ingin mengambil material bernilai.

Proses pengolahan e-waste idealnya dilakukan oleh pihak yang memiliki kemampuan dan fasilitas yang sesuai.


Baterai Memerlukan Perhatian Khusus

Salah satu komponen yang paling perlu diperhatikan adalah baterai.

Smartphone.

Laptop.

Power bank.

Earbuds.

Sepeda listrik.

Perangkat rumah tangga tertentu.

Banyak perangkat modern menggunakan baterai lithium-ion atau teknologi baterai lainnya.

Baterai yang rusak, bocor, atau menggembung membutuhkan penanganan khusus.

Karena itu, jangan memperlakukan baterai bermasalah seperti sampah biasa.

Jika baterai terlihat menggembung atau rusak secara fisik, hindari tindakan yang dapat menyebabkan panas, tekanan, atau korsleting dan cari saluran pengelolaan limbah elektronik yang sesuai.

Kesalahan kecil dalam menangani baterai dapat menimbulkan risiko keselamatan.


E-Waste Sebenarnya Mengandung Nilai Ekonomi

Di sinilah sisi menarik dari persoalan ini.

Sampah elektronik bukan hanya beban.

Ia juga bisa menjadi sumber material.

Kementerian Lingkungan Hidup/BPLH menyoroti bahwa e-waste memiliki potensi karena mengandung logam bernilai tinggi yang dapat dimanfaatkan kembali sebagai sumber daya strategis.

Artinya, perangkat elektronik yang sudah tidak digunakan sebenarnya dapat dilihat sebagai urban mine atau tambang perkotaan.

Bukan berarti masyarakat harus membongkar perangkat sendiri.

Justru sebaliknya.

Material bernilai tersebut perlu diambil melalui proses pengolahan yang aman dan terstandar.

Jika ekosistemnya berkembang, Indonesia tidak hanya mengurangi limbah.

Indonesia juga dapat memperoleh kembali sebagian sumber daya yang sebelumnya dianggap tidak berguna.


Dari Ekonomi Linear Menuju Ekonomi Sirkular

Selama ini model konsumsi sederhana sering berbentuk:

ambil → produksi → gunakan → buang.

Ini disebut pola linear.

Masalahnya, sumber daya terbatas.

Jika setiap perangkat berakhir di tempat pembuangan setelah masa penggunaan singkat, semakin banyak bahan mentah yang dibutuhkan untuk membuat produk baru.

Ekonomi sirkular menawarkan pendekatan berbeda.

Barang digunakan lebih lama.

Diperbaiki.

Digunakan kembali.

Dijual kembali.

Komponennya dipulihkan.

Materialnya didaur ulang.

Kemudian digunakan kembali dalam rantai produksi.

Dengan demikian, nilai sebuah produk tidak berhenti ketika pemilik pertama selesai menggunakannya.


Extended Producer Responsibility Bisa Mengubah Permainan

Salah satu konsep yang sedang didorong dalam pengelolaan e-waste adalah Extended Producer Responsibility (EPR).

Secara sederhana, konsep ini mendorong produsen untuk memiliki tanggung jawab yang lebih besar terhadap produk setelah masa pakainya berakhir.

Ini penting.

Selama ini konsumen sering menjadi pihak terakhir dalam rantai konsumsi.

Beli.

Pakai.

Buang.

Dengan pendekatan EPR, produsen dapat didorong untuk memikirkan seluruh siklus hidup produk.

Bagaimana perangkat dikumpulkan?

Bagaimana perangkat diperbaiki?

Bagaimana komponen dipulihkan?

Bagaimana limbahnya diproses?

Pada Mei 2026, pemerintah bersama ITU, BRIN, dan mitra lainnya memang tengah mendorong penguatan kerangka regulasi EPR untuk pengelolaan limbah elektronik berkelanjutan di Indonesia.


Produsen Bisa Mendesain Produk yang Lebih Mudah Diperbaiki

Ekonomi sirkular bukan hanya urusan setelah produk rusak.

Ia dimulai sejak produk dirancang.

Bayangkan dua perangkat.

Perangkat pertama mudah dibuka.

Baterainya dapat diganti.

Komponennya tersedia.

Perbaikannya sederhana.

Perangkat kedua menggunakan desain yang sangat sulit dibongkar.

Ketika satu komponen rusak, seluruh perangkat harus diganti.

Dari perspektif ekonomi sirkular, perangkat pertama lebih mudah dipertahankan dalam siklus penggunaan.

Karena itu, desain produk memiliki pengaruh besar terhadap jumlah sampah yang dihasilkan.


Konsumen Juga Memiliki Peran

Konsumen bukan hanya pembeli.

Keputusan konsumen dapat memengaruhi produsen.

Sebelum membeli perangkat baru, pertimbangkan:

Apakah perangkat lama benar-benar sudah tidak bisa digunakan?

Apakah kerusakannya dapat diperbaiki?

Apakah produk baru memiliki masa penggunaan yang panjang?

Apakah tersedia layanan perbaikan?

Apakah suku cadangnya tersedia?

Apakah produsen memiliki program pengembalian perangkat?

Pertanyaan sederhana tersebut dapat membantu membentuk pola konsumsi yang lebih bertanggung jawab.


Jangan Terjebak Siklus “Upgrade”

Industri teknologi bergerak cepat.

Setiap tahun muncul model baru.

Kamera lebih tajam.

Prosesor lebih cepat.

Layar lebih bagus.

Fitur AI semakin banyak.

Desain semakin tipis.

Semua itu menarik.

Namun tidak setiap teknologi baru berarti perangkat lama sudah tidak layak.

Jika perangkat lama masih memenuhi kebutuhan, menggunakannya lebih lama dapat menjadi pilihan yang masuk akal.

Ini bukan berarti menolak inovasi.

Ini berarti membedakan antara:

kebutuhan

dan

keinginan untuk selalu memiliki model terbaru.


Sekolah Bisa Menjadi Titik Awal Edukasi E-Waste

Literasi lingkungan tidak harus selalu dimulai dari persoalan plastik.

Anak-anak saat ini sangat dekat dengan perangkat elektronik.

Mereka menggunakan:

tablet.

laptop.

smartphone.

headset.

charger.

Kebiasaan pengelolaan perangkat dapat diajarkan sejak dini.

Misalnya:

  • tidak membuang baterai sembarangan;
  • merawat perangkat;
  • memperpanjang usia penggunaan;
  • menyerahkan elektronik rusak ke tempat pengumpulan yang tepat;
  • serta menghapus data sebelum perangkat diberikan kepada orang lain.

Pendidikan semacam ini akan semakin penting ketika generasi digital tumbuh menjadi konsumen teknologi terbesar.


Kampus Juga Bisa Menjadi Pusat Pengumpulan

Perguruan tinggi memiliki posisi strategis.

Kampus memiliki banyak perangkat elektronik.

Komputer.

Printer.

Monitor.

Laboratorium.

Perangkat jaringan.

Baterai.

Perangkat penelitian.

Jika dikelola dengan baik, kampus dapat menjadi pusat pengumpulan dan edukasi e-waste.

Mahasiswa juga dapat dilibatkan dalam riset mengenai:

  • pemilahan;
  • perbaikan;
  • rekondisi;
  • desain produk;
  • pemulihan material;
  • dan teknologi daur ulang.

Dengan demikian, persoalan sampah menjadi laboratorium nyata untuk inovasi.


UMKM Bisa Mendapat Peluang Baru

Ekonomi sirkular tidak hanya memberikan pekerjaan kepada perusahaan besar.

UMKM juga dapat masuk dalam rantai nilai.

Misalnya melalui:

  • jasa perbaikan;
  • refurbish perangkat;
  • pengumpulan elektronik;
  • pemilahan komponen;
  • perdagangan perangkat bekas;
  • jasa penghapusan data;
  • logistik e-waste;
  • dan produksi barang dari komponen bekas.

Namun kegiatan tersebut harus dilakukan dengan standar keselamatan dan pengelolaan lingkungan yang sesuai.

Jika ekosistem terbentuk, sampah elektronik dapat menciptakan lapangan ekonomi baru.


Refurbished Bisa Menjadi Alternatif

Tidak semua konsumen membutuhkan perangkat baru.

Produk refurbished dapat menjadi alternatif bagi konsumen yang membutuhkan perangkat dengan harga lebih terjangkau.

Perangkat diperiksa.

Komponen yang bermasalah diganti.

Sistem diuji.

Kemudian dijual kembali.

Model seperti ini memperpanjang usia produk.

Tetapi konsumen harus tetap berhati-hati.

Perhatikan:

  • kondisi baterai;
  • garansi;
  • reputasi penjual;
  • kondisi fisik;
  • keaslian komponen;
  • keamanan perangkat;
  • dan status data pengguna sebelumnya.

Pemerintah Tidak Bisa Bekerja Sendiri

Pengelolaan e-waste membutuhkan ekosistem.

Pemerintah membuat regulasi.

Produsen mendesain produk.

Distributor menyediakan sistem pengembalian.

Pengelola limbah melakukan pemrosesan.

Pelaku usaha menciptakan pasar.

Masyarakat mengembalikan perangkat.

Perguruan tinggi melakukan riset.

Semua memiliki peran.

Jika salah satu mata rantai hilang, sistem menjadi tidak efektif.


Jangan Hanya Membuat Tempat Pengumpulan

Membuat drop point memang penting.

Tetapi itu baru tahap awal.

Pertanyaan berikutnya:

Setelah dikumpulkan, barang tersebut pergi ke mana?

Siapa yang mengangkut?

Siapa yang memilah?

Siapa yang mengolah?

Bagaimana material dipulihkan?

Bagaimana residu ditangani?

Bagaimana memastikan tidak terjadi kebocoran limbah?

Inilah alasan sistem e-waste membutuhkan traceability.

Masyarakat perlu percaya bahwa perangkat yang mereka serahkan benar-benar masuk ke jalur pengelolaan yang bertanggung jawab.


Teknologi Justru Bisa Membantu Mengelola Sampah Teknologi

Ironis tetapi menarik.

Masalahnya berasal dari teknologi.

Solusinya juga dapat dibantu teknologi.

Platform digital dapat digunakan untuk:

  • menemukan titik pengumpulan;
  • menjadwalkan penjemputan;
  • mencatat jenis perangkat;
  • melacak proses pengolahan;
  • menghitung material yang berhasil dipulihkan;
  • memberikan insentif;
  • dan menghubungkan konsumen dengan pengelola limbah.

Dengan sistem tersebut, pengelolaan e-waste menjadi lebih transparan.


Tantangan Terbesar Adalah Kebiasaan

Teknologi sebenarnya tersedia.

Konsep ekonominya juga sudah ada.

Regulasi mulai berkembang.

Namun ada satu faktor yang sulit diubah:

kebiasaan masyarakat.

Banyak orang masih berpikir:

“Kalau sudah rusak, buang saja.”

Padahal barang rusak belum tentu tidak bernilai.

Ada komponen yang bisa digunakan kembali.

Ada material yang bisa dipulihkan.

Ada perangkat yang dapat diperbaiki.

Ada data yang harus diamankan.

Ada baterai yang membutuhkan penanganan khusus.

Karena itu, perubahan perilaku harus menjadi bagian penting dari strategi nasional.


Apa yang Bisa Dilakukan di Rumah?

Tidak perlu menunggu program besar.

Masyarakat dapat memulai dari rumah.

Pertama, jangan mencampur elektronik dengan sampah biasa

Pisahkan perangkat yang sudah tidak digunakan.

Kedua, cek apakah masih bisa diperbaiki

Kerusakan kecil tidak selalu berarti harus membeli perangkat baru.

Ketiga, hapus data pribadi

Sebelum menjual atau menyerahkan perangkat.

Keempat, cari saluran pengumpulan resmi

Pastikan perangkat masuk ke jalur pengelolaan yang tepat.

Kelima, jangan membakar

Terutama perangkat yang mengandung baterai atau komponen elektronik.

Keenam, jangan membongkar baterai berbahaya sembarangan

Jika baterai rusak atau menggembung, cari penanganan yang sesuai.

Ketujuh, gunakan perangkat lebih lama

Selama masih memenuhi kebutuhan dan aman digunakan.


Bagaimana dengan Charger dan Kabel?

Barang kecil sering luput dari perhatian.

Charger rusak.

Kabel putus.

Adaptor lama.

Mouse.

Keyboard.

Earphone.

Semua dapat menjadi bagian dari e-waste.

Karena ukurannya kecil, benda-benda tersebut sering berakhir di tempat sampah rumah tangga.

Padahal jika dikumpulkan secara terpisah, materialnya dapat masuk ke sistem pemulihan.

Jadi jangan menunggu perangkat berukuran besar untuk mulai memikirkan e-waste.


Masa Depan Gadget Harus Lebih Berkelanjutan

Industri teknologi akan terus berkembang.

Kebutuhan terhadap smartphone, komputer, perangkat pintar, kendaraan listrik, perangkat IoT, dan berbagai elektronik lainnya kemungkinan akan terus meningkat.

Artinya, persoalan e-waste juga tidak akan hilang.

Yang harus berubah adalah cara kita melihat perangkat.

Dari:

produk sekali pakai

menjadi:

produk dengan siklus hidup panjang.

Dari:

barang rusak

menjadi:

sumber daya yang masih memiliki nilai.

Dari:

sampah

menjadi:

bagian dari ekonomi sirkular.


E-Waste Bisa Menjadi Bagian dari Strategi Ekonomi Hijau

Indonesia sedang membicarakan transformasi energi, hilirisasi, pembangunan berkelanjutan, dan ekonomi sirkular.

E-waste berada di persimpangan berbagai agenda tersebut.

Di satu sisi ada kebutuhan teknologi.

Di sisi lain ada kebutuhan menjaga lingkungan.

Di tengahnya terdapat peluang ekonomi.

Jika dikelola dengan baik, pengolahan e-waste dapat menciptakan nilai dari barang yang sebelumnya dianggap tidak berguna.

Inilah mengapa isu tersebut layak dibicarakan bukan hanya sebagai masalah sampah, tetapi juga sebagai strategi pembangunan ekonomi berkelanjutan.


Kesimpulan

Sampah elektronik Indonesia adalah persoalan yang akan semakin penting seiring cepatnya digitalisasi masyarakat.

Smartphone, laptop, televisi, baterai, charger, perangkat jaringan, hingga berbagai gadget lainnya memiliki masa pakai. Ketika masa penggunaan berakhir, perangkat tersebut tidak otomatis berubah menjadi sampah biasa yang bisa dibuang begitu saja.

E-waste membutuhkan sistem pengelolaan yang lebih bertanggung jawab.

Indonesia sendiri mulai memperkuat agenda tersebut. Pemerintah pada 2026 menyoroti meningkatnya e-waste akibat pertumbuhan penduduk, urbanisasi, dan konsumsi produk elektronik. Pemerintah juga mendorong ekonomi sirkular dan pengembangan kerangka Extended Producer Responsibility.

Persoalannya bukan hanya tentang bagaimana mendaur ulang perangkat.

Ada pertanyaan yang lebih besar:

Bagaimana memperpanjang masa pakai produk?

Bagaimana memperbaiki perangkat?

Bagaimana menggunakan kembali komponennya?

Bagaimana mengamankan data pribadi?

Bagaimana memastikan baterai ditangani secara aman?

Bagaimana membuat produsen ikut bertanggung jawab?

Dan bagaimana menciptakan nilai ekonomi dari perangkat yang sudah tidak digunakan?

Jika semua pertanyaan tersebut dapat dijawab dalam satu ekosistem, e-waste tidak lagi sekadar menjadi masalah lingkungan.

Ia dapat menjadi peluang.

Peluang untuk menciptakan industri baru.

Peluang bagi UMKM.

Peluang bagi inovasi teknologi.

Peluang bagi pekerjaan hijau.

Dan peluang bagi Indonesia untuk membangun ekonomi yang lebih sirkular.

Pada akhirnya, perangkat yang sudah tidak kita gunakan tidak harus langsung berakhir di tempat pembuangan.

HP lama mungkin sudah tidak berguna bagi kita, tetapi belum tentu kehilangan seluruh nilainya.

Di dalamnya masih ada material, komponen, data, dan bahkan peluang ekonomi.

Yang dibutuhkan adalah sistem yang mampu mengambil kembali nilai tersebut tanpa mengorbankan lingkungan.

Karena semakin digital kehidupan manusia, semakin penting pula satu prinsip sederhana:

teknologi yang kita gunakan hari ini juga harus dipikirkan nasibnya setelah tidak lagi kita gunakan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *