Teknik & Strategi - Info Terkini - Sosial & Masyarakat - Teknologi

Ketika Pemilik Akun Sudah Tiada, Siapa yang Mengurus Jejak Digitalnya?

Jejak digital setelah meninggal tidak otomatis hilang. Kenali apa yang terjadi pada akun, foto, data pribadi, dan aset digital serta cara mengelolanya.

Bayangkan suatu hari seseorang membuka ponselnya dan menemukan puluhan ribu foto keluarga.

Ada foto pernikahan.

Foto kelahiran anak.

Percakapan dengan orang tua.

Video perjalanan.

Dokumen pekerjaan.

Catatan pribadi.

Email.

Akun media sosial.

Bahkan mungkin terdapat rekening digital, toko online, dompet elektronik, layanan berlangganan, hingga berbagai aset yang seluruhnya terhubung dengan identitas orang tersebut.

Semasa hidup, semuanya terasa biasa.

Cukup menggunakan kata sandi.

Mengaktifkan verifikasi dua langkah.

Menyimpan file di cloud.

Lalu menjalani aktivitas sehari-hari.

Namun ada satu pertanyaan yang jarang ditanyakan:

Apa yang terjadi pada semua data tersebut ketika pemiliknya sudah tidak ada?

Pertanyaan ini semakin relevan karena kehidupan masyarakat modern semakin bergantung pada layanan digital.

Internet bukan lagi sekadar tempat mencari informasi.

Internet sudah menjadi tempat menyimpan kenangan, berkomunikasi, bekerja, bertransaksi, membangun bisnis, menyimpan dokumen, hingga mengelola berbagai aktivitas kehidupan.

Kementerian Komunikasi dan Digital bahkan mencatat penetrasi internet Indonesia telah mencapai 80,6 persen dari total populasi dalam pernyataan pada Juli 2026. Kondisi tersebut menunjukkan betapa besarnya bagian kehidupan masyarakat yang kini berlangsung di ruang digital.

Artinya, semakin banyak orang memiliki persoalan yang sama:

bagaimana mengelola kehidupan digital ketika kehidupan fisik seseorang telah berakhir?


Jejak Digital Tidak Berhenti Ketika Seseorang Meninggal

Banyak orang membayangkan bahwa ketika seseorang meninggal, aktivitas digitalnya otomatis berhenti.

Padahal tidak sesederhana itu.

Akun media sosial bisa tetap aktif.

Email masih dapat menerima pesan.

Foto yang tersimpan di cloud mungkin masih berada di server.

Video lama dapat tetap muncul dalam pencarian.

Nama seseorang bisa tetap terhubung dengan berbagai situs.

Bisnis online yang dimilikinya mungkin masih menerima pesanan.

Nomor telepon mungkin masih digunakan untuk proses autentikasi.

Bahkan perangkat yang ditinggalkan bisa menyimpan informasi yang jauh lebih banyak daripada buku harian.

Inilah yang membuat jejak digital setelah meninggal menjadi persoalan baru.

Jika dahulu warisan seseorang terutama berbentuk rumah, tanah, kendaraan, tabungan, surat berharga, atau benda pribadi, sekarang ada lapisan tambahan:

warisan digital.


Apa Itu Warisan Digital?

Warisan digital dapat dipahami secara sederhana sebagai berbagai aset, data, akun, dan informasi digital yang ditinggalkan seseorang setelah meninggal.

Bentuknya sangat beragam.

Foto dan video

Ribuan foto keluarga mungkin tersimpan di layanan cloud atau perangkat pribadi.

Email

Email dapat berisi komunikasi penting, dokumen pekerjaan, bukti transaksi, atau informasi administratif.

Media sosial

Akun media sosial dapat berisi kenangan dan hubungan sosial selama bertahun-tahun.

Dokumen digital

Kontrak, sertifikat, file pekerjaan, hingga dokumen keluarga bisa tersimpan secara elektronik.

Aset bisnis

Pemilik usaha online mungkin mempunyai akun marketplace, domain, media sosial bisnis, dan sistem pembayaran.

Aset finansial digital

Seseorang bisa memiliki berbagai akun layanan keuangan yang membutuhkan proses khusus untuk penanganannya.

Aset kreatif

Video, tulisan, foto, desain, musik, atau karya digital dapat memiliki nilai ekonomi.

Dengan demikian, warisan digital tidak selalu berarti sesuatu yang memiliki nilai uang.

Foto keluarga pun dapat menjadi warisan digital yang sangat berharga secara emosional.


Masalah Besarnya: Keluarga Belum Tentu Tahu Semua Akun yang Dimiliki

Bayangkan seseorang memiliki:

  • tiga alamat email;
  • dua akun media sosial utama;
  • satu akun marketplace;
  • beberapa layanan cloud;
  • aplikasi keuangan;
  • akun bisnis;
  • domain website;
  • layanan streaming;
  • dan berbagai aplikasi lain.

Apakah keluarga mengetahui semuanya?

Belum tentu.

Bahkan seseorang yang tinggal serumah dengan pemilik akun belum tentu mengetahui kata sandi atau keberadaan seluruh layanan tersebut.

Ini menciptakan persoalan baru.

Ketika terjadi sesuatu, keluarga mungkin mengetahui keberadaan laptop.

Tetapi tidak mengetahui bahwa ada data penting di akun cloud.

Mengetahui nomor telepon.

Tetapi tidak mengetahui bahwa nomor tersebut menjadi kunci autentikasi beberapa layanan.

Mengetahui akun media sosial.

Tetapi tidak mengetahui adanya akun bisnis yang menggunakan email berbeda.

Karena itu, inventarisasi aset digital menjadi salah satu langkah penting.


Mengapa Password Tidak Boleh Menjadi Satu-satunya Solusi?

Sebagian orang mungkin berpikir:

“Kalau keluarga tahu password, masalah selesai.”

Tidak selalu.

Setiap platform memiliki kebijakan berbeda mengenai akses akun setelah pemilik meninggal.

Ada layanan yang menyediakan fitur untuk menentukan kontak tertentu.

Ada yang memungkinkan akun dikenang.

Ada yang menyediakan proses permintaan penghapusan.

Ada pula layanan yang membutuhkan dokumen atau proses verifikasi tertentu.

Artinya, mengetahui password bukan berarti otomatis memberikan hak akses ke seluruh layanan.

Selain itu, membagikan satu password utama kepada orang lain juga dapat menciptakan risiko keamanan ketika seseorang masih hidup.

Solusi yang lebih baik adalah membuat rencana akses digital yang aman dan jelas.


Jangan Simpan Semua Password di Catatan Biasa

Salah satu kesalahan yang masih sering dilakukan adalah menyimpan password di:

  • buku catatan;
  • file Word;
  • spreadsheet;
  • pesan WhatsApp;
  • email pribadi;
  • atau catatan yang tidak memiliki perlindungan.

Cara tersebut berisiko.

Jika perangkat hilang atau akun diretas, seluruh informasi dapat ikut terbuka.

Pengelolaan kredensial sebaiknya menggunakan metode yang memiliki perlindungan memadai.

Yang lebih penting, keluarga tidak harus mengetahui semua password selama hidup seseorang.

Yang diperlukan adalah mekanisme akses darurat yang dirancang sebelumnya.


Apa yang Terjadi pada Akun Media Sosial?

Media sosial menjadi salah satu bagian paling sensitif dari warisan digital.

Alasannya sederhana.

Akun media sosial bukan hanya tempat menyimpan data.

Ia juga merupakan identitas seseorang di mata publik.

Ketika pemilik akun meninggal, keluarga bisa menghadapi beberapa pilihan.

Apakah akun dibiarkan?

Apakah akun diubah menjadi bentuk memorial?

Apakah akun dihapus?

Apakah konten tertentu perlu disimpan?

Siapa yang berhak menentukan?

Pertanyaan tersebut dapat menjadi rumit jika keluarga memiliki pandangan berbeda.

Karena itu, sebaiknya keputusan mengenai akun digital tidak seluruhnya baru dibicarakan setelah seseorang meninggal.


Foto Digital Bisa Lebih Berharga daripada Benda Fisik

Dulu keluarga mungkin memiliki album foto.

Album tersebut dapat disimpan di lemari.

Kini sebagian besar foto tersimpan dalam bentuk digital.

Ribuan foto bisa berada di satu akun cloud.

Jika keluarga tidak mengetahui akun tersebut, foto dapat sulit ditemukan.

Lebih buruk lagi jika akun kehilangan akses.

Karena itu, foto digital perlu diperlakukan seperti dokumen keluarga.

Foto penting dapat dibuat salinan cadangan.

Folder dapat diberi nama jelas.

Dokumen keluarga dapat dipisahkan dari file biasa.

Orang yang dipercaya dapat diberi informasi mengenai lokasi penyimpanan tanpa harus mengetahui seluruh password.

Tujuannya bukan membuka semua privasi seseorang.

Tujuannya memastikan data yang memang perlu diwariskan tidak ikut hilang.


Privasi Tetap Harus Dihormati

Di sinilah persoalannya menjadi sensitif.

Meninggalkan akses digital bukan berarti keluarga boleh membuka semua percakapan pribadi.

Seseorang mungkin memiliki komunikasi yang bersifat sangat pribadi.

Ada email pekerjaan.

Percakapan teman.

Catatan pribadi.

Data kesehatan.

Informasi finansial.

Atau dokumen yang sebenarnya tidak ditujukan untuk orang lain.

Karena itu, pengelolaan warisan digital harus membedakan antara:

data yang perlu diwariskan

dan

data yang seharusnya tetap privat.

Tidak semua informasi yang dapat diakses secara teknis otomatis layak dibuka.

Ini merupakan persoalan etika yang semakin penting di era digital.


Aset Digital Tidak Selalu Berarti Uang Kripto

Ketika mendengar istilah aset digital, sebagian orang langsung memikirkan cryptocurrency.

Padahal pengertiannya jauh lebih luas.

Aset digital dapat berupa:

  • domain;
  • website;
  • akun bisnis;
  • karya digital;
  • lisensi perangkat lunak;
  • channel konten;
  • foto;
  • video;
  • buku digital;
  • musik;
  • desain;
  • dan berbagai bentuk kekayaan intelektual.

Seorang kreator konten misalnya dapat memiliki channel dengan jutaan penonton.

Channel tersebut memiliki nilai ekonomi.

Namun apakah keluarga mengetahui bagaimana mengelolanya jika kreator tersebut meninggal?

Pertanyaan seperti ini akan semakin penting seiring tumbuhnya ekonomi kreator.


Bisnis Kecil Juga Bisa Menghadapi Masalah Serius

Bayangkan sebuah usaha keluarga dikelola oleh satu orang.

Semua akses berada di email pribadinya.

Marketplace menggunakan nomor ponselnya.

Media sosial menggunakan password yang hanya dia tahu.

Website menggunakan email yang sama.

Data pelanggan berada di laptop pribadinya.

Kemudian orang tersebut meninggal.

Bisnis tidak otomatis berhenti.

Tetapi aksesnya dapat menjadi masalah.

Pesanan masih masuk.

Pelanggan masih bertanya.

Tagihan masih berjalan.

Domain masih harus diperpanjang.

Akun pembayaran masih membutuhkan pengelolaan.

Inilah alasan pemilik bisnis perlu membuat business digital continuity plan.

Sederhananya:

Jika saya tidak dapat mengakses bisnis selama satu bulan, siapa yang dapat melanjutkannya?

Pertanyaan tersebut seharusnya dijawab sebelum terjadi keadaan darurat.


Domain Website Juga Bisa Menjadi Warisan

Satu hal yang sering dilupakan pemilik website adalah domain.

Domain mungkin tampak sederhana.

Misalnya sebuah alamat website perusahaan.

Namun domain dapat memiliki nilai bisnis yang tinggi.

Jika tidak diperpanjang, domain dapat kedaluwarsa.

Jika pemilik akun tidak dapat dihubungi, proses pengelolaan dapat menjadi lebih rumit.

Karena itu, pemilik bisnis sebaiknya mencatat:

  • registrar domain;
  • email administrator;
  • tanggal perpanjangan;
  • hosting;
  • akses website;
  • dan kontak teknis.

Tidak perlu semua informasi tersebut dipublikasikan.

Cukup pastikan orang yang tepat tahu bahwa informasi tersebut ada dan dapat ditemukan ketika dibutuhkan.


Bagaimana dengan Akun Keuangan Digital?

Bagian ini harus ditangani dengan jauh lebih hati-hati.

Akun perbankan, dompet digital, investasi, dan layanan keuangan lainnya memiliki aturan tersendiri.

Jangan menganggap bahwa memberikan password kepada keluarga adalah prosedur yang benar.

Pengelolaan aset finansial setelah pemilik meninggal harus mengikuti mekanisme resmi penyedia layanan dan ketentuan yang berlaku.

Hal ini juga menunjukkan pentingnya menyimpan informasi mengenai apa yang dimiliki, bukan sekadar bagaimana cara masuk.

Misalnya keluarga perlu mengetahui bahwa seseorang memiliki rekening atau investasi tertentu.

Namun proses klaim atau pengalihan harus dilakukan melalui jalur resmi.


Jangan Mengabaikan Penipuan Setelah Seseorang Meninggal

Kematian seseorang juga dapat menciptakan peluang bagi penipu.

Jika informasi pribadi tersebar, pihak tidak bertanggung jawab dapat mencoba menghubungi keluarga.

Mereka bisa mengaku sebagai:

  • bank;
  • platform digital;
  • perusahaan asuransi;
  • marketplace;
  • penyedia layanan;
  • atau bahkan lembaga pemerintah.

Modusnya bisa meminta dokumen, kode OTP, password, atau transfer dana.

OJK bersama Komdigi dan industri perbankan pada Juli 2026 menyatakan memperkuat kerja sama untuk memberantas scam dan membangun ekosistem keuangan digital yang lebih aman.

Artinya, keamanan digital tidak berhenti pada saat seseorang masih hidup.

Keluarga juga perlu waspada ketika mengurus berbagai urusan digital setelah kematian.


Jika Terlanjur Menjadi Korban Scam, Ada Jalur Pelaporan

Bagi korban penipuan transaksi keuangan, OJK menyediakan Indonesia Anti-Scam Centre (IASC).

IASC menghubungkan laporan korban dengan lembaga keuangan terkait untuk mempercepat upaya penanganan, termasuk kemungkinan pemblokiran rekening. OJK juga menekankan agar korban segera melapor dan membuat laporan kepada penegak hukum.

Informasi seperti ini penting diketahui keluarga karena dalam situasi kehilangan, seseorang dapat berada dalam kondisi emosional dan lebih mudah mempercayai pihak yang mengaku membantu.

Prinsipnya sederhana:

jangan memberikan OTP, PIN, password, atau data sensitif kepada pihak yang menghubungi secara mendadak.


Anak-Anak Juga Akan Meninggalkan Jejak Digital

Persoalan warisan digital tidak hanya berlaku bagi orang dewasa.

Anak-anak saat ini tumbuh di lingkungan yang sangat digital.

Foto mereka diunggah orang tua.

Nama mereka mungkin muncul di media sosial.

Prestasi sekolah dipublikasikan.

Video keluarga disimpan di cloud.

Akun tertentu dibuat sejak usia muda.

Komdigi pada 2026 juga menempatkan perlindungan anak di ruang digital sebagai perhatian penting, termasuk melalui program literasi dan pembentukan ekosistem digital yang lebih aman bagi anak.

Karena itu, orang tua sebaiknya mulai memahami bahwa jejak digital anak dapat bertahan jauh lebih lama daripada yang dibayangkan.


Warisan Digital Membutuhkan Percakapan Keluarga

Ada percakapan yang sering dianggap tidak nyaman:

“Kalau suatu hari saya tidak ada, bagaimana dengan akun saya?”

Tetapi justru percakapan seperti ini dapat mengurangi masalah di masa depan.

Tidak perlu membahas semua detail.

Cukup mulai dari hal sederhana.

Misalnya:

“Ada dokumen penting di cloud.”

“Website usaha dikelola melalui email ini.”

“Foto keluarga tersimpan di akun tersebut.”

“Kalau terjadi sesuatu, hubungi orang ini.”

Informasi seperti itu dapat sangat membantu.


Buat Daftar Aset Digital

Salah satu langkah paling praktis adalah membuat daftar.

Tidak perlu mencantumkan password di dalam dokumen tersebut.

Cukup buat daftar kategori.

Komunikasi

Email utama dan email cadangan.

Media sosial

Platform yang digunakan.

Penyimpanan

Cloud, hard drive, atau server.

Bisnis

Website, domain, marketplace, media sosial bisnis.

Finansial

Institusi atau layanan yang digunakan.

Karya

Channel, buku, musik, desain, atau karya lainnya.

Langganan

Software, hosting, streaming, dan layanan berbayar.

Daftar tersebut dapat diperbarui secara berkala.


Pisahkan Data Pribadi dan Data yang Bisa Diwariskan

Tidak semua file harus diperlakukan sama.

Buat kategori:

Penting untuk keluarga

Misalnya dokumen keluarga, foto, sertifikat, atau informasi bisnis.

Penting untuk pekerjaan

Dokumen perusahaan atau data yang harus diserahkan kepada organisasi.

Pribadi

Informasi yang tidak perlu diwariskan.

Untuk dihapus

Data tertentu yang memang tidak perlu disimpan.

Dengan pengelompokan tersebut, keluarga tidak perlu memilah ribuan file secara manual dalam kondisi berduka.


Backup Menjadi Semakin Penting

Data yang hanya berada di satu perangkat memiliki risiko.

Laptop rusak.

Ponsel hilang.

Hard drive gagal.

Akun terkunci.

Karena itu, data penting sebaiknya memiliki cadangan.

Namun backup juga harus aman.

Jangan menyimpan salinan data sensitif tanpa perlindungan.

Prinsipnya:

backup harus tersedia ketika dibutuhkan, tetapi tidak mudah diakses oleh orang yang tidak berhak.


Mengapa Literasi Digital Sekarang Harus Naik Level?

Literasi digital dulu banyak berfokus pada pertanyaan:

Bagaimana menggunakan internet?

Bagaimana membuat email?

Bagaimana menggunakan media sosial?

Bagaimana menghindari virus?

Sekarang tantangannya jauh lebih kompleks.

Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria pada Juni 2026 menyatakan pendekatan literasi digital tidak lagi cukup jika hanya mengajarkan kemampuan dasar menggunakan perangkat. Fokusnya perlu bergeser ke kemampuan yang lebih kontekstual, produktif, dan relevan dengan perkembangan teknologi, termasuk menghadapi disinformasi dan misinformasi.

Persoalan warisan digital merupakan salah satu contoh bagaimana literasi digital perlu berkembang.

Masyarakat bukan hanya perlu tahu cara menggunakan teknologi.

Mereka juga perlu memahami konsekuensi jangka panjang dari penggunaan teknologi.


Jejak Digital Bisa Menjadi Bagian dari Sejarah Keluarga

Ada sisi positif dari warisan digital.

Bayangkan generasi berikutnya dapat melihat:

Foto kakek dan nenek.

Video keluarga puluhan tahun lalu.

Surat elektronik.

Dokumen sejarah keluarga.

Cerita perjalanan.

Rekaman suara.

Karya tulisan.

Dulu semua itu mungkin tercecer.

Sekarang teknologi memungkinkan semuanya disimpan dalam bentuk digital.

Jika dikelola dengan baik, arsip digital dapat menjadi semacam museum keluarga pribadi.

Ini menunjukkan bahwa warisan digital tidak selalu tentang kehilangan.

Ia juga dapat menjadi cara mempertahankan memori.


Tetapi Jangan Mengubah Semua Kehidupan Menjadi Arsip

Di sisi lain, masyarakat tidak perlu menyimpan semuanya.

Ribuan file yang tidak pernah dibuka kembali hanya akan menjadi beban.

Pilih apa yang benar-benar bernilai.

Foto penting.

Dokumen penting.

Karya penting.

Rekaman penting.

Informasi keluarga penting.

Sisanya dapat diseleksi.

Dengan begitu, arsip digital tetap memiliki nilai.


Masa Depan Akan Membuat Persoalan Ini Semakin Rumit

Teknologi berkembang sangat cepat.

Saat ini kita berbicara tentang akun media sosial dan cloud.

Beberapa tahun ke depan, mungkin akan muncul lebih banyak bentuk aset digital yang sulit dibayangkan.

Avatar digital.

Konten yang dibuat AI.

Replika suara.

Model digital seseorang.

Identitas virtual.

Karya digital interaktif.

Semua itu dapat menciptakan pertanyaan baru:

Apakah seseorang memiliki hak menentukan bagaimana representasi digital dirinya digunakan setelah meninggal?

Ini bukan lagi pertanyaan fiksi.

Perkembangan AI membuat batas antara identitas fisik dan representasi digital menjadi semakin kompleks.

Komdigi sendiri pada 2026 menekankan bahwa pengembangan AI perlu berjalan bersama perlindungan masyarakat, termasuk terhadap penyalahgunaan data pribadi dan risiko digital lainnya.


Apakah Kita Sudah Memiliki “Surat Wasiat Digital”?

Konsep surat wasiat digital mungkin terdengar asing.

Namun secara sederhana, isinya dapat berupa petunjuk.

Bukan harus menjadi dokumen hukum yang rumit.

Misalnya:

  • akun mana yang penting;
  • data apa yang perlu disimpan;
  • data apa yang boleh dihapus;
  • siapa yang perlu diberi tahu;
  • bisnis apa yang harus dilanjutkan;
  • di mana dokumen penting berada;
  • serta layanan digital apa yang perlu ditutup.

Untuk urusan yang menyangkut hak kepemilikan, harta, atau aspek hukum, tentu perlu disesuaikan dengan ketentuan hukum dan dapat dikonsultasikan kepada profesional yang kompeten.

Namun sebagai langkah manajemen pribadi, membuat inventaris digital sudah jauh lebih baik daripada tidak memiliki informasi sama sekali.


Lima Langkah Membuat Rencana Warisan Digital

1. Inventarisasi

Catat semua akun dan layanan penting.

2. Klasifikasikan

Pisahkan akun pribadi, pekerjaan, bisnis, finansial, dan arsip keluarga.

3. Tentukan prioritas

Tentukan mana yang harus dipertahankan dan mana yang dapat dihapus.

4. Tentukan orang yang dipercaya

Tidak harus satu orang mengakses semuanya.

Orang berbeda dapat bertanggung jawab atas kategori berbeda.

5. Perbarui secara berkala

Rencana yang dibuat lima tahun lalu mungkin sudah tidak relevan.

Akun baru terus muncul.

Password berubah.

Layanan berpindah.

Bisnis berkembang.

Karena itu, inventaris digital harus diperbarui.


Jangan Menunggu Sampai Terlambat

Masalah terbesar dari warisan digital adalah kita cenderung merasa masih memiliki banyak waktu.

Hari ini akun masih dapat diakses.

Besok belum tentu.

Ponsel masih menyala.

Besok bisa rusak.

Email masih aktif.

Suatu saat bisa terkunci.

Karena itu, perencanaan digital bukan tentang berpikir negatif.

Justru sebaliknya.

Ini adalah bentuk tanggung jawab.

Sama seperti seseorang menyimpan dokumen rumah, sertifikat, atau informasi rekening, data digital juga membutuhkan pengelolaan.


Kesimpulan

Jejak digital setelah meninggal adalah persoalan yang semakin penting seiring semakin dalamnya teknologi masuk ke kehidupan manusia.

Indonesia telah memiliki basis pengguna internet yang sangat besar. Komdigi pada Juli 2026 menyebut penetrasi internet mencapai 80,6 persen, sementara pemerintah juga terus memperkuat literasi digital, keamanan siber, dan perlindungan masyarakat di ruang digital.

Dalam kondisi seperti ini, identitas digital seseorang tidak lagi sekadar akun media sosial.

Ia dapat berupa foto keluarga, dokumen pekerjaan, website, bisnis, karya kreatif, akun layanan, data pribadi, hingga berbagai aset yang memiliki nilai ekonomi dan emosional.

Ketika seseorang meninggal, semua itu tidak otomatis hilang.

Sebagian mungkin tetap tersimpan.

Sebagian mungkin tidak dapat diakses.

Sebagian membutuhkan prosedur khusus.

Sebagian lainnya mungkin sebaiknya benar-benar dihapus.

Karena itu, masyarakat perlu mulai mengenal konsep warisan digital.

Buat daftar akun.

Simpan informasi penting dengan aman.

Pastikan data memiliki backup.

Pisahkan data pribadi dan data yang memang perlu diwariskan.

Tentukan orang yang dipercaya.

Dan pahami bahwa akses digital tidak selalu sama dengan hak untuk membuka seluruh isi kehidupan seseorang.

Pada akhirnya, teknologi membuat manusia meninggalkan jejak yang jauh lebih panjang dibandingkan masa lalu.

Sebuah foto dapat bertahan puluhan tahun.

Sebuah tulisan dapat ditemukan kembali oleh generasi berikutnya.

Sebuah website dapat terus aktif.

Sebuah karya dapat tetap beredar.

Sebuah akun dapat terus menyimpan kenangan.

Karena itu, ada satu pertanyaan yang seharusnya mulai dipikirkan setiap pengguna internet:

Jika suatu hari saya tidak lagi bisa mengelola akun-akun ini, apakah orang yang saya percaya tahu apa yang harus dilakukan?

Jika jawabannya belum, mungkin sekarang adalah waktu yang tepat untuk mulai membuat rencana.

Sebab di era digital, meninggalkan warisan bukan lagi hanya tentang apa yang ada di rumah.

Sebagian dari kehidupan kita kini juga tersimpan di dalam layar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *