Transportasi publik Indonesia terus berkembang, tetapi kendaraan pribadi masih menjadi pilihan banyak warga. Masalah first mile dan last mile menjadi salah satu penyebabnya.
Ada satu pemandangan yang sangat umum di banyak kota Indonesia.
Pagi hari.
Jalan mulai padat.
Ribuan sepeda motor bergerak hampir bersamaan.
Mobil memenuhi ruas jalan.
Sebagian pengendara harus berhenti berkali-kali di lampu merah.
Di sisi lain, bus dan kereta mulai membawa semakin banyak penumpang.
Stasiun semakin modern.
Halte semakin nyaman.
Aplikasi perjalanan semakin pintar.
Pembayaran semakin mudah.
Namun satu pertanyaan masih belum benar-benar terjawab:
Mengapa kendaraan pribadi tetap menjadi pilihan utama bagi banyak masyarakat?
Jawabannya ternyata tidak sesederhana karena transportasi publik dianggap kurang nyaman.
Persoalannya jauh lebih mendasar.
Seseorang mungkin tinggal hanya 500 meter dari stasiun.
Tetapi bagaimana cara mencapai stasiun?
Berjalan kaki?
Apakah trotoarnya nyaman?
Naik sepeda?
Apakah tersedia jalur yang aman?
Menggunakan ojek?
Apakah biayanya masih masuk akal jika dilakukan setiap hari?
Naik angkot?
Apakah jadwal dan rutenya sesuai?
Persoalan seperti inilah yang disebut sebagai first mile dan last mile.
Dan bisa jadi, justru inilah salah satu bagian terpenting dalam masa depan transportasi publik Indonesia.
Transportasi Publik Tidak Hanya Soal Bus dan Kereta
Ketika mendengar istilah transportasi publik, masyarakat biasanya langsung memikirkan bus, kereta, MRT, LRT, atau angkutan kota.
Padahal sebuah sistem transportasi tidak berdiri sendiri.
Ada perjalanan dari rumah menuju halte.
Dari halte menuju stasiun.
Dari stasiun menuju kantor.
Dari terminal menuju sekolah.
Dari tempat kerja menuju pusat perdagangan.
Semua perjalanan kecil tersebut membentuk satu rantai mobilitas.
Jika satu mata rantai bermasalah, seluruh perjalanan dapat terasa tidak nyaman.
Misalnya seseorang memiliki pilihan kereta yang cepat.
Perjalanan utama hanya membutuhkan 30 menit.
Namun untuk mencapai stasiun, ia harus menggunakan dua kendaraan dan menunggu cukup lama.
Total perjalanan akhirnya menjadi satu jam lebih.
Dalam situasi tersebut, kendaraan pribadi dapat terlihat jauh lebih praktis.
Inilah tantangan sebenarnya.
Bukan sekadar menyediakan transportasi publik, tetapi membuat seluruh perjalanan menjadi mudah.
Data Menunjukkan Minat terhadap Angkutan Umum Ada
Fenomena ini bukan berarti masyarakat tidak tertarik menggunakan transportasi publik.
Data Kementerian Perhubungan justru menunjukkan adanya pertumbuhan penggunaan angkutan umum.
Selama periode Nataru 2025/2026, jumlah pengguna angkutan umum mencapai 21.461.491 penumpang, naik 12,48 persen dibandingkan periode sebelumnya yang mencapai 19.079.881 penumpang.
Pada periode Angkutan Lebaran 2026, Kemenhub juga mencatat jumlah penumpang angkutan umum selama masa Lebaran mencapai 23,54 juta orang, meningkat 10,87 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Data tersebut memberikan pesan penting.
Masyarakat sebenarnya bersedia menggunakan transportasi publik ketika layanan tersebut:
- tersedia;
- mudah diakses;
- aman;
- nyaman;
- memiliki jadwal yang jelas;
- dan mampu membawa mereka sampai tujuan.
Jadi masalahnya bukan selalu “masyarakat tidak mau naik angkutan umum”.
Bisa jadi masalahnya adalah sistem transportasi belum sepenuhnya mengikuti pola perjalanan masyarakat.
First Mile: Masalah yang Dimulai dari Rumah
Bayangkan seorang pekerja tinggal di kawasan perumahan.
Tempat kerjanya berada di pusat kota.
Terdapat stasiun kereta yang cukup dekat dari kantor.
Kereta sebenarnya merupakan pilihan yang efisien.
Tetapi rumahnya berjarak tiga kilometer dari stasiun.
Jalan menuju stasiun tidak memiliki trotoar yang nyaman.
Tidak ada halte angkutan umum yang mudah dijangkau.
Akhirnya ia menggunakan sepeda motor.
Sesampainya di stasiun, muncul masalah lain.
Parkir penuh.
Biaya parkir bertambah.
Atau ia memilih membawa motor sampai kantor.
Dalam kasus seperti ini, keberadaan kereta belum menyelesaikan persoalan.
Karena masalahnya muncul sebelum perjalanan utama dimulai.
Itulah first mile.
Last Mile Sama Pentingnya
Masalahnya tidak berhenti ketika seseorang turun dari kereta.
Misalnya stasiun berada dua kilometer dari tempat kerja.
Ada bus penghubung, tetapi hanya lewat setiap 30 menit.
Atau trotoarnya terputus.
Atau harus menyeberang jalan besar.
Atau kawasan tersebut tidak ramah bagi pejalan kaki.
Akibatnya, perjalanan yang seharusnya sederhana menjadi rumit.
Seseorang mungkin berpikir:
“Kalau begitu lebih baik naik motor langsung dari rumah.”
Keputusan tersebut sangat rasional dari sudut pandang individu.
Tetapi jika jutaan orang mengambil keputusan yang sama, kota menghadapi masalah kolektif berupa kemacetan, konsumsi energi, dan polusi.
Transportasi Publik Harus Menjual “Kemudahan”, Bukan Sekadar Kendaraan
Ini adalah perubahan cara berpikir yang penting.
Operator transportasi jangan hanya bertanya:
“Berapa banyak bus yang kami punya?”
Pertanyaan yang lebih penting adalah:
“Seberapa mudah masyarakat berpindah dari rumah ke tujuan?”
Karena pengguna tidak membeli perjalanan bus.
Mereka membeli kemudahan mencapai tujuan.
Bagi masyarakat, yang dinilai adalah keseluruhan perjalanan.
Berjalan kaki.
Menunggu.
Naik kendaraan pengumpan.
Berpindah moda.
Menunggu lagi.
Kemudian berjalan menuju tujuan akhir.
Jika seluruh proses terasa rumit, transportasi publik akan kalah bersaing dengan kendaraan pribadi meskipun kendaraan publik lebih efisien pada perjalanan utama.
Integrasi Antarmoda Menjadi Kunci
Karena itu, integrasi menjadi kata penting dalam pembangunan transportasi modern.
Satu perjalanan seharusnya dapat menggabungkan beberapa moda tanpa menciptakan terlalu banyak hambatan.
Misalnya:
rumah → bus pengumpan → stasiun → kereta → halte → kantor.
Idealnya, pengguna tidak merasa sedang melakukan lima perjalanan berbeda.
Ia merasakan satu perjalanan.
Konsep seperti ini mulai terlihat dalam berbagai pengembangan transportasi perkotaan.
Di Jakarta, misalnya, pemerintah daerah pada Juni 2026 mencanangkan Pedestrian Deck Dukuh Atas yang ditargetkan memperkuat integrasi enam moda: MRT Jakarta, LRT Jabodebek, KRL Commuter Line, Kereta Bandara Soekarno-Hatta, Transjakarta, dan LRT Jakarta.
Artinya, masa depan transportasi bukan hanya membangun jalur baru.
Tetapi menghubungkan jalur yang sudah ada.
Integrasi Tarif Juga Tidak Kalah Penting
Bayangkan seseorang harus membayar tiga kali untuk satu perjalanan.
Bayar bus.
Bayar kereta.
Bayar angkutan penghubung.
Secara teknis perjalanan dapat terintegrasi.
Tetapi dari sudut pandang pengguna, sistem tersebut masih terasa terpisah.
Karena itu, integrasi tarif menjadi bagian penting.
Pada Juli 2026, Pemprov DKI Jakarta menggelar public hearing mengenai penyempurnaan integrasi tarif angkutan umum. Tujuannya antara lain mendorong sistem yang semakin terintegrasi, inklusif, dan berkelanjutan.
Ini menunjukkan bahwa transportasi modern bukan hanya persoalan infrastruktur.
Harga perjalanan juga merupakan bagian dari desain mobilitas.
Jalan Kaki Adalah Moda Transportasi
Ada kesalahan cara pandang yang sering terjadi.
Jalan kaki dianggap bukan transportasi.
Padahal hampir setiap perjalanan menggunakan transportasi publik selalu memiliki komponen berjalan kaki.
Dari rumah ke halte.
Dari halte ke kantor.
Dari stasiun ke pusat perbelanjaan.
Dari terminal ke sekolah.
Artinya, kualitas trotoar sangat menentukan kualitas transportasi publik.
Stasiun secanggih apa pun tidak akan terasa nyaman jika pengguna harus berjalan di jalan yang panas, rusak, sempit, atau tidak aman.
Karena itu, pembangunan transportasi publik seharusnya berjalan bersama pembangunan pedestrian.
Sepeda Bisa Menjadi Penghubung yang Efektif
Selain berjalan kaki, sepeda dapat menjadi solusi first mile dan last mile.
Seseorang tidak harus berjalan tiga kilometer menuju stasiun.
Dengan sepeda, jarak tersebut dapat ditempuh lebih cepat.
Namun fasilitasnya harus mendukung.
Diperlukan:
- jalur sepeda;
- parkir sepeda;
- akses aman ke stasiun;
- koneksi dengan transportasi umum;
- serta perlindungan dari kendaraan bermotor.
Jika infrastruktur tersebut tersedia, sepeda dapat menjadi bagian dari ekosistem transportasi, bukan sekadar aktivitas olahraga.
Ojek Online Bisa Menjadi Bagian dari Solusi
Menariknya, layanan ride-hailing sebenarnya dapat menjadi penghubung antara kendaraan pribadi dan transportasi massal.
Seseorang mungkin tidak memiliki kendaraan.
Namun ia dapat memesan ojek menuju stasiun.
Setelah itu menggunakan kereta.
Kemudian memesan ojek lagi menuju kantor.
Dalam pola tersebut, layanan digital menjadi feeder.
Namun biaya juga harus diperhatikan.
Jika ongkos ojek menuju stasiun terlalu mahal setiap hari, pengguna tetap bisa kembali ke sepeda motor pribadi.
Jadi teknologi memang membantu, tetapi keterjangkauan tetap menentukan.
Aplikasi Transportasi Harus Membuat Perjalanan Lebih Sederhana
Saat ini pengguna sudah terbiasa dengan aplikasi.
Mereka ingin mengetahui:
- kapan kendaraan datang;
- berapa lama perjalanan;
- berapa biaya;
- di mana harus turun;
- kapan harus berpindah moda;
- dan apakah terjadi gangguan.
Informasi tersebut dapat mengubah pengalaman perjalanan.
Seseorang lebih berani menggunakan transportasi publik ketika ia mengetahui apa yang akan terjadi.
Sebaliknya, ketidakpastian membuat kendaraan pribadi terasa lebih menarik.
Karena itu, aplikasi transportasi tidak boleh hanya menjadi alat pembayaran.
Ia harus menjadi asisten perjalanan.
Ketepatan Waktu Lebih Penting daripada Sekadar Kecepatan
Transportasi publik tidak selalu harus lebih cepat daripada kendaraan pribadi.
Yang lebih penting adalah dapat diprediksi.
Jika bus datang setiap 10 menit secara konsisten, pengguna dapat merencanakan perjalanan.
Jika kereta selalu tepat waktu, pengguna dapat mengatur jadwal kerja.
Sebaliknya, kendaraan yang sangat cepat tetapi tidak dapat diprediksi akan sulit diandalkan.
Karena itu, indikator penting transportasi publik bukan hanya kecepatan.
Ada:
- frekuensi;
- ketepatan waktu;
- kapasitas;
- keamanan;
- kenyamanan;
- dan konsistensi.
Kenyamanan Bisa Menentukan Pilihan
Orang tidak hanya mempertimbangkan harga.
Mereka juga mempertimbangkan pengalaman.
Apakah kendaraan terlalu penuh?
Apakah udara cukup nyaman?
Apakah halte aman?
Apakah tersedia tempat duduk?
Apakah akses untuk lansia mudah?
Bagaimana dengan penyandang disabilitas?
Bagaimana dengan ibu yang membawa anak?
Semakin inklusif sebuah sistem, semakin banyak kelompok masyarakat yang dapat menggunakannya.
Transportasi publik akhirnya bukan hanya alat mobilitas.
Ia menjadi bagian dari kualitas hidup kota.
Transportasi Publik dan Perempuan
Persoalan keamanan juga tidak boleh dianggap sebagai detail kecil.
Bagi sebagian pengguna, pertanyaan utamanya bukan:
“Mana yang lebih cepat?”
Tetapi:
“Mana yang terasa paling aman?”
Penerangan.
Kamera.
Petugas.
Ruang tunggu.
Desain halte.
Akses keluar-masuk.
Informasi pengaduan.
Semua dapat memengaruhi keputusan menggunakan transportasi publik.
Jika satu kelompok merasa tidak aman, tingkat penggunaan sistem secara keseluruhan dapat terdampak.
Lansia dan Penyandang Disabilitas Harus Masuk dalam Desain Sejak Awal
Sistem transportasi yang baik tidak hanya dibuat untuk pengguna sehat berusia produktif.
Ada lansia.
Ada pengguna kursi roda.
Ada penyandang disabilitas visual.
Ada anak-anak.
Ada orang yang membawa barang.
Jika desain transportasi hanya mempertimbangkan pengguna ideal, sistem akan meninggalkan sebagian masyarakat.
Karena itu, aksesibilitas seharusnya bukan fitur tambahan.
Ia harus menjadi bagian dari desain awal.
Transportasi Publik Bisa Menjadi Senjata Melawan Kemacetan
Kemacetan bukan hanya masalah jumlah kendaraan.
Ia juga merupakan masalah efisiensi ruang.
Satu bus dapat membawa banyak penumpang dalam satu kendaraan.
Kereta dapat membawa penumpang dalam jumlah jauh lebih besar.
Jika semakin banyak masyarakat beralih ke angkutan massal, tekanan terhadap ruang jalan dapat berkurang.
Namun sekali lagi, perpindahan tersebut tidak bisa hanya dilakukan melalui kampanye.
Pemerintah harus membuat transportasi publik benar-benar kompetitif dalam hal waktu, biaya, kenyamanan, dan kemudahan.
Bukan Berarti Kendaraan Pribadi Harus Dihilangkan
Pendekatan yang realistis bukan memusuhi mobil atau sepeda motor.
Kendaraan pribadi tetap dibutuhkan untuk kondisi tertentu.
Wilayah yang belum memiliki angkutan umum memadai masih sangat bergantung pada kendaraan pribadi.
Perjalanan keluarga juga kadang membutuhkan kendaraan sendiri.
Distribusi barang tentu memiliki kebutuhan berbeda.
Yang perlu dibangun adalah pilihan mobilitas yang lebih banyak.
Jika seseorang memilih kendaraan pribadi karena memang membutuhkan, itu berbeda dengan seseorang yang menggunakan kendaraan pribadi karena tidak memiliki alternatif.
Tujuan transportasi publik adalah memperbanyak pilihan.
Kota Kecil Juga Memerlukan Transportasi Publik
Transportasi publik sering identik dengan Jakarta, Surabaya, Bandung, atau kota metropolitan lainnya.
Padahal kota kecil juga membutuhkan sistem mobilitas.
Skalanya memang berbeda.
Tidak semua kota membutuhkan MRT.
Tidak semua kota membutuhkan LRT.
Tetapi hampir semua kota membutuhkan:
- angkutan pengumpan;
- terminal yang baik;
- pedestrian;
- jalur sepeda;
- angkutan sekolah;
- dan sistem informasi transportasi.
Solusinya harus disesuaikan dengan ukuran kota.
Bogor Memberikan Gambaran Menarik
BPS Kota Bogor mencatat bahwa pada 2025 seluruh kelurahan di Kota Bogor telah tersedia angkutan umum. Sebanyak 97,06 persen di antaranya memiliki angkutan umum dengan trayek tetap maupun tidak tetap, sementara sisanya dilayani angkutan umum tanpa trayek tetap.
Data ini menarik karena menunjukkan bahwa cakupan layanan merupakan bagian penting dari sistem transportasi.
Namun keberadaan angkutan umum saja belum cukup.
Pertanyaan berikutnya adalah:
Apakah jadwalnya sesuai?
Apakah terhubung dengan pusat aktivitas?
Apakah tarifnya terjangkau?
Apakah aman?
Apakah nyaman?
Apakah mudah dipahami pengguna baru?
Di sinilah evaluasi kualitas perlu dilakukan.
Masa Depan Transportasi Akan Semakin Multimoda
Pola perjalanan masa depan kemungkinan tidak akan bergantung pada satu kendaraan.
Seseorang dapat:
berjalan kaki,
naik sepeda,
menggunakan bus,
berpindah ke kereta,
kemudian menggunakan kendaraan pengumpan.
Semua itu dapat terjadi dalam satu perjalanan.
Kemenhub dalam evaluasi arus mudik 2026 juga mencatat kecenderungan pola perjalanan multimoda yang semakin kuat seiring meningkatnya konektivitas dan integrasi layanan transportasi nasional.
Ini merupakan perubahan penting.
Masyarakat tidak harus memilih antara “naik kendaraan pribadi” atau “naik transportasi umum”.
Pilihan sebenarnya dapat berupa:
kombinasi beberapa moda yang paling efisien.
Data Akan Menentukan Masa Depan Mobilitas
Kota masa depan membutuhkan data.
Pemerintah perlu mengetahui:
- kapan masyarakat bepergian;
- dari mana mereka berangkat;
- ke mana mereka pergi;
- moda apa yang digunakan;
- kapan terjadi kepadatan;
- halte mana yang terlalu ramai;
- rute mana yang kurang diminati.
Dengan data tersebut, layanan dapat disesuaikan.
Bus tidak perlu sekadar ditambah.
Rutenya harus tepat.
Frekuensinya harus tepat.
Kapasitasnya harus sesuai.
Teknologi dapat membantu membuat sistem tersebut lebih adaptif.
Tetapi Teknologi Bukan Jawaban untuk Semuanya
Smart city sering dipahami sebagai kota yang penuh sensor.
Ada kamera.
Ada aplikasi.
Ada data.
Ada kecerdasan buatan.
Namun kota pintar bukan kota yang paling banyak teknologinya.
Kota pintar adalah kota yang mampu menggunakan teknologi untuk menyelesaikan masalah nyata.
Jika masyarakat tetap kesulitan berjalan 500 meter menuju halte, aplikasi secanggih apa pun tidak menyelesaikan masalah tersebut.
Karena itu:
infrastruktur dasar tetap menjadi fondasi.
Transportasi yang Baik Harus Menghemat Waktu Masyarakat
Pada akhirnya, waktu adalah mata uang penting dalam mobilitas.
Jika seseorang menghabiskan dua jam perjalanan setiap hari, dalam satu bulan jumlah waktunya sangat besar.
Waktu tersebut sebenarnya dapat digunakan untuk:
- bekerja;
- belajar;
- beristirahat;
- bersama keluarga;
- berolahraga;
- atau melakukan aktivitas produktif lainnya.
Karena itu, transportasi publik yang baik sebenarnya bukan sekadar fasilitas.
Ia adalah investasi terhadap waktu masyarakat.
Apa yang Harus Dilakukan Agar Transportasi Publik Lebih Menarik?
Ada beberapa langkah yang dapat menjadi prioritas.
1. Perbaiki first mile dan last mile
Pastikan halte dan stasiun mudah dijangkau dari kawasan permukiman serta pusat aktivitas.
2. Tingkatkan integrasi antarmoda
Pengguna tidak boleh merasa sedang melakukan perjalanan yang terpisah-pisah.
3. Sederhanakan pembayaran
Semakin mudah membayar, semakin rendah hambatan menggunakan transportasi publik.
4. Tingkatkan ketepatan waktu
Konsistensi sering kali lebih penting daripada kecepatan maksimal.
5. Bangun pedestrian yang layak
Jalan kaki merupakan bagian integral dari transportasi.
6. Perhatikan keamanan
Terutama pada halte, stasiun, dan perjalanan malam hari.
7. Gunakan data untuk menentukan rute
Jangan membangun layanan hanya berdasarkan asumsi.
8. Buat transportasi lebih inklusif
Lansia, anak-anak, dan penyandang disabilitas harus menjadi bagian dari desain.
Transportasi Publik Adalah Investasi Jangka Panjang
Pembangunan transportasi tidak memberikan hasil hanya dalam hitungan bulan.
Satu jalur baru dapat mengubah pola perjalanan masyarakat selama bertahun-tahun.
Satu stasiun baru dapat memunculkan pusat ekonomi baru.
Satu jaringan bus yang baik dapat mengurangi ketergantungan terhadap kendaraan pribadi.
Karena itu, perencanaan transportasi harus memiliki perspektif jangka panjang.
Bukan hanya:
“Berapa banyak kendaraan yang bisa kita pindahkan hari ini?”
Tetapi:
“Kota seperti apa yang ingin kita bangun 10 atau 20 tahun dari sekarang?”
Kesimpulan
Transportasi publik Indonesia sedang memasuki fase yang semakin penting.
Penggunaan angkutan umum menunjukkan pertumbuhan. Selama Nataru 2025/2026, jumlah penumpang angkutan umum mencapai lebih dari 21,46 juta orang, naik 12,48 persen dibanding periode sebelumnya. Pada masa Lebaran 2026, jumlah penumpang angkutan umum juga meningkat 10,87 persen menjadi 23,54 juta orang.
Namun peningkatan jumlah penumpang belum berarti seluruh persoalan mobilitas telah selesai.
Masalah terbesar justru bisa berada di antara titik-titik transportasi.
Dari rumah menuju halte.
Dari halte menuju stasiun.
Dari stasiun menuju kantor.
Dari terminal menuju tujuan akhir.
Itulah alasan first mile dan last mile harus mendapatkan perhatian lebih besar.
Transportasi publik yang benar-benar kompetitif bukan hanya transportasi yang memiliki bus modern atau kereta cepat.
Ia adalah sistem yang membuat seseorang berpikir:
“Saya tidak perlu membawa motor hari ini karena perjalanan saya tetap mudah.”
Ketika masyarakat memiliki pilihan tersebut, perubahan perilaku akan terjadi secara alami.
Mereka tidak perlu dipaksa.
Tidak perlu terus-menerus diberi kampanye.
Mereka akan memilih moda yang paling masuk akal.
Karena itu, masa depan transportasi Indonesia bukan semata-mata tentang membangun lebih banyak jalan.
Bukan pula sekadar membeli lebih banyak armada.
Masa depan transportasi adalah tentang menghubungkan manusia dengan tujuan secara lebih cepat, aman, terjangkau, nyaman, dan berkelanjutan.
Dan mungkin, ukuran keberhasilan transportasi publik yang paling sederhana bukanlah jumlah stasiun yang dibangun.
Melainkan seberapa sering masyarakat akhirnya berkata:
“Ternyata naik transportasi umum lebih mudah daripada yang saya kira.”



