Zohran Mamdani terpilih sebagai Wali Kota New York pada 4 November 2025, dengan platform progresif yang mencakup pembekuan sewa, upah minimum $30 per jam, bus umum gratis, dan perluasan perumahan terjangkau.
Mantan Presiden Donald Trump secara terbuka mengkritik Mamdani sejak kampanye, menudingnya sebagai “komunis” dan memperingatkan bahwa kebijakan Mamdani bisa membahayakan dana federal untuk kota New York.
Respons Mamdani terhadap Trump
Dalam pidato kemenangannya, Mamdani secara langsung menyapa Trump:
“Donald Trump, karena saya tahu Anda menonton, saya punya empat kata untuk Anda: naikkan volumenya!”
Mamdani menekankan bahwa New York bisa menunjukkan kepada bangsa bagaimana mengatasi struktur kekuasaan lama dan mengkritik kebijakan pemerintahan Trump yang dianggapnya merugikan demokrasi dan keadilan sosial.
Tanggapan Trump
Trump menanggapi dengan menegaskan tuduhannya bahwa Mamdani adalah “komunis radikal” dan mengisyaratkan bahwa dukungan federal untuk New York dapat dikurangi jika Mamdani menjalankan agenda progresifnya. Trump memperingatkan bahwa Mamdani harus “menghormati Washington” atau menghadapi risiko kegagalan politik, menekankan bahwa kebijakan Mamdani dianggap ekstrem dan berpotensi merusak stabilitas ekonomi.
Poin-Poin Perseteruan
-
Ideologi: Mamdani mendorong demokrasi sosial dan keadilan sosial, sementara Trump menekankan risiko kebijakan tersebut bagi stabilitas ekonomi.
-
Kota vs Pemerintah Federal: Rencana pembekuan sewa, upah minimum tinggi, dan transportasi gratis bisa bertentangan dengan prioritas federal dan alokasi dana.
-
Representasi dan Identitas: Mamdani sebagai wali kota pertama Muslim dan keturunan Asia Selatan menekankan inklusivitas, sementara Trump mengkritik pergeseran demografis dan ideologi ini.
Implikasi Politik dan Sosial
-
Perseteruan ini menjadi simbol perbedaan generasi dan ideologi antara kepemimpinan kota progresif dan kekuatan konservatif nasional.
-
Potensi pengurangan dana federal dapat memengaruhi pelaksanaan program sosial seperti perumahan terjangkau dan transportasi publik.
-
Mamdani menegaskan komitmennya terhadap otonomi kota dan kebijakan progresif meski mendapat tekanan federal.
-
Peristiwa ini berpotensi memengaruhi persepsi publik dan pemilu di tingkat negara bagian maupun nasional, menyoroti ketegangan antara pemerintahan lokal dan federal.
Kesimpulan
Pertukaran kata antara Zohran Mamdani dan Donald Trump mencerminkan benturan antara kepemimpinan progresif kota besar dan politik konservatif nasional. Mamdani memposisikan diri sebagai penantang kekuatan lama, sementara Trump tetap menegaskan pengaruh federal dalam kebijakan kota. Perseteruan ini diperkirakan akan memengaruhi lanskap politik New York dan bisa menjadi preseden hubungan kota-federal di Amerika Serikat.



